Peran Gender Membatasi Masa Depan Anak


Yogyakarta, Psikologi Zone
 – Fokus pada satu peran sebagai pria atau wanita membuat anak akan terbatasi dalam menjalani kehidupan di masa depan, termasuk pemilihan karir. Seorang wanita tidak akan pantas melakukan pekerjaan seperti layaknya pria, begitu juga sebaliknya.

Anak laki-laki akan terbatasi pada jenis pekerjaan yang memiliki sifat maskulin, begitu juga anak perempuan yang hanya cocok melakukan pekerjaan bersifat feminim. Perempuan tidak pantas menjadi pemimpin, atau laki-laki tidak cocok menjadi juru masak.

“Dampaknya tentu saja setelah dewasa pria menjadi tergantung pada perempuan dalam urusan domestik,” kata Arundati Shinta, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi ’45 (UP45) Yogyakarta dalam ujian gelar doktor terbuka di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, rilis UGM, Minggu (18/3).

Budaya Indonesia masih menganut paham bahwa, peran seseorang harus diajarkan sesuai dengan jenis kelaminnya. Orang tua sudah menentukan peran anak mereka sejak kecil. Misalnya, orang tua sudah menentukan pilihan mainan dan minat karir anak sejak kecil.

“Pilihan orangtua itu mendorong potensi anak terbatas pada hal-hal yang stereotip gender, sehingga alternatif masa depannya cenderung sempit,” katanya menjelaskan.

Ia mengatakan, idealnya anak-anak diberikan kesempatan untuk menentukan segala sesuatu berdasarkan minat, bukan karena alasan jenis kelamin. Akhirnya, mereka tidak akan terbatasi oleh peran sebagai wanita, namun bisa melakukan sesuatu layaknya pria.

“Semua ini dilakukan agar anak mampu menentukan segala sesuatu kelak berdasar minat bukan karena alasan peran gender dan menghindarkan anak dari penolakan prematur terhadap karir mereka di masa depan,” tutur Arundati.

Orang tua perlu untuk menanamkan sifat maskulin dan feminim pada anak-anak tanpa melihat jenis kelamin. Diharapkan anak tidak lagi memilih kegiatan berdasarkan peran gender, namun karena kebutuhan pribadi.

“Anak akan merasa bebas dan tidak takut terhadap pilihannya yang mungkin tidak sesuai dengan norma gender tradisional,”

Sumber : http://www.psikologizone.com

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s